Culture

Ratu Tri Bhuana Tunggadewi, Sosok Perempuan Cerdas di Balik Kejayaan Majapahit

Ratu Tri Bhuana Tunggadewi, Sosok Perempuan Cerdas di Balik Kejayaan Majapahit

Ada banyak sosok superhero perempuan yang mungkin saat ini kita kenal. Namun, sudah tahukah Anda bahwa sosok pahlawan wanita di dalam negeri juga banyak sekali jumlahnya?

Tak hanya R.A Kartini saja, namun sosok-sosok ratu yang juga menjadi pelopor di Indonesia di zaman-zaman dinasti kerajaan juga tak kalah hebatnya.

Nah, salah satu yang tercatat sejarah sebagai sosok pemimpin wanita nan bijaksana adalah Ratu Tri Bhuana Tunggadewi. Siapakah beliau? Simak ulasan berikut ini sampai selesai, ya!

Siapa Ratu Tri Bhuana Tunggadewi?

Siapa saja pasti sudah mengenal atau setidaknya mendengar tentang kerajaan yang masyhur ini. Majapahit. Siapa sosok yang terlintas di benak Anda saat mendengarnya? Patih Gajah Mada?

Benar sekali. Namun, mungkin sedikit saja yang mengetahui bahwa salah satu penguasa Majapahit adalah seorang wanita. Tak lain dan tak bukan adalah Ratu Tri Bhuana Tunggadewi.

Penguasa Majapahit Ketiga

Sang ratu merupakan penguasa generasi ketiga di kerajaan Majapahit. Masa pemerintahannya bisa dibilang cukup lama, yakni selama 23 tahun dari tahun 1328-1351 Masehi.

Gelar Abhiseka sang ratu diketahui dari Prasati Singasari tahun 1351, yaitu Sri Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani.

Silsilah Ratu Tri Bhuana

Tentu bukan sembarang orang yang saat itu bisa memerintah kerajaan Majapahit, begitu pula dengan sang ratu. Dirunut dari silsilahnya, beliau memang seorang putri yang berhak atas tahta kerajaan.

Ratu Tri Bhuana Tunggadewi memiliki nama asli Dyah Gitarja. Nama sang ratu kemudian biasa disingkat dengan sebutan Tribhuwana.

Ia adalah seorang putri dari Raden Wijaya dan Dyah Dewi Gayatri. Raden Wijaya sendiri merupakan raja pertama di Majapahit sekaligus sosok yang mendirikan kerajaan tersebut. Sedangkan sang ibu, Gayatri, merupakan putri dari raja Kertanegara.

Tribhuwana mempunyai seorang adik kandung yang bernama Dyah Wiyat, juga seorang kakak tiri yang bernama Jayanagara.

Jenjang Pangkat Tribhuwana

Sebelum Tribhuwana memerintah Majapahit, Jayanagara telah lebih dulu naik tahta. Dalam masa pemerintahan kakak tirinya tersebut, tepatnya dari tahun 1309-1328, Tribhuwana diangkat menjadi penguasa bawahan di Jiwana. Gelarnya waktu itu adalah Bhre Kahuripan.

Seperti dikatakan dalam Pararaton, Jayanagara memiliki ketakutan bahwa tahtanya akan terancam. Sehingga, ia melarang kedua adiknya, yakni Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat untuk menikah.

Namun, setelah ia meninggal di tahun 1328, tak pelak jika banyak sekali para ksatria dan pangeran yang datang melamar kedua adiknya.

Dengan suatu sayembara, akhirnya diperoleh lah dua orang pria. Diketahui, ia adalah Cakradhara yang menjadi suami Tribhuwana atau Dyah Gitarja, serta Kudamerta yang menjadi suami Dyah Wiyat.

Pada masa itu, Cakradhara, sang suami dari Tribhuwana bergelar Kertawardhana Bhre Tumapel. Dari pernikahan keduanya lahirlah dua sosok legendaris lain yakni Dyah Hayam Wuruk serta Dyah Nertaja.

Di kemudian hari, Hayam Wuruk kemudian diangkat menjadi yuwaraja yang bergelar Bhre Kahuripan atau Bhre Jiwana. Sementara, Dyah Nertaja bergelar sebagai Bhre Pajang.

Memerintah Atas Perintah sang Ibu

Mungkin sedikit khalayak yang mengetahui bahwa Tribhuwana naik tahta juga bukan berdasar keinginannya sendiri. Kenapa ia bisa memerintah kerajaan Majapahit adalah karena perintah sang ibu, Dyah Dewi Gayatri.

Tepatnya, Tribhuwana mulai memerintah pada tahun 1329 setelah Jayanagara meninggal pada tahun 1328. Namun begitu, saat sang ibu, Gayatri, meninggal dunia pada tahun 1350, maka berakhir pula masa pemerintahan Tribhuwana. Kisah ini tertuang dalam kitab Nagarakretagama.

Catatan sejarah itu membuat kesan yang timbul menjadi simpang siur. Salah satunya adalah bahwa Tribhuwana naik tahta hanya untuk mewakili ibunya.

Lantas mengapa Gayatri tidak menobatkan dirinya sendiri menjadi ratu pada saat itu alih-alih menyuruh putrinya? Karena, Gayatri telah menjadi salah seorang pendeta Buddha yang mana tidak boleh lagi terlibat dalam pemerintahan kerajaan. Sehingga, ia memilih mewakilkan putrinya, Tribhuwana Tunggadewi sebagai ganti dirinya.

Gayatri memang hanya seorang putri bungsu dari Kertanagara, namun ia juga satu-satunya yang masih hidup di antara istri Raden Wijaya yang lain.

Karena itulah, ia dengan sah bisa mewarisi tahta Jayanagara yang sudah meninggal. Jayanagara sendiri tidak memiliki keturunan sehingga Gayatri tidak menyalahi peraturan yang semestinya.

Kiprah sang Ratu di Bidang Politik

Tak sepatutnya kepemimpinan seorang perempuan dipandang sebelah jika sudah mengetahui sepak terjang Ratu Tri Bhuana Tunggadewi ini.

Selama memerintah Majapahit, banyak sekali prestasi-prestasi gemilang yang diraihnya, salah satunya dalam bidang politik dan perebutan kekuasaan antar wilayah.

Ditelaah dari Nagarakretagama, Tribhuwana resmi memerintah Majapahit dan didampingi oleh suaminya, Kertawardhana. Jika Anda bertanya-tanya siapa dalang yang ada di balik penaklukan Sadeng dan Keta, maka sang ratu lah otak dari peristiwa tersebut.

Tepatnya pada tahun 1331, Tribhuwana berhasil menumpas pemberontakan yang terjadi di dua daerah itu. Tak tanggung-tanggung, sang ratu sendiri lah yang menjadi panglima dan berangkat sendiri menyerang Sadeng, didampingi sepupunya Adityawarman.

Hal ini terjadi karena Gajah Mada dan Ra Kembar saling berebut untuk menjadi panglima dalam penumpasan Sadeng itu. Tak ingin membuang waktu, maka sang ratu segera meninggalkan keduanya dan mengambil alih posisi tersebut. Kisah ini tertulis dalam Pararaton.

Pelopor Sumpah Palapa

Siapa yang tidak mengetahui sejarah paling populer di negeri ini? Benar, Sumpah Palapa yang dilakukan oleh Patih Gajah Mada adalah cetakan sejarah yang sangat terkenal.

Namun, tahukah Anda bahwa orang di balik kesuksesan sang patih adalah Ratu Tri Bhuana Tunggadewi?

Selama menjadi anggota bayangkara Majapahit sebelum resmi memerintah, Tribhuwana sudah menerka bahwa Gajah Mada memiliki kemampuan yang luar biasa.

Karena itu, Tribhuwana mengangkat Gajah Mada menjadi Patih Kahuripan saat ia sendiri menjabat sebagai Ratu di Kahuripan dalam pemerintahan Jayanagara.

Pasca meninggalnya sang raja dan posisi tersebut digantikan olehnya, Tribhuwana juga menaikkan pangkat Gajah Mada menjadi Mahapatih Majapahit.

Peristiwa penting yang menyertai pelantikan Gajah Mada sebagai rakryan patih Majapahit ini adalah Sumpah Palapa. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1334.

Dalam sumpahnya, Gajah Mada mengucapkan bahwa dirinya tidak akan menikmati makanan-makanan enak atau rempah-rempah sebelum bisa menaklukkan wilayah kepulauan di Nusantara di bawah kepemimpinan Majapahit.

Masa Emas Perluasan Wilayah Majapahit

Jarang yang tahu bahwa masa kejayaan kerajaan Majapahit adalah justru saat kerajaan itu dikendalikan oleh seorang ratu.

Masa pemerintahan Ratu Tri Bhuana Tunggadewi memang dikenal sebagai masa-masa perluasan wilayah kerajaan ini. Tak tanggung-tanggung, perluasan tersebut meliputi segala arah kepulauan Nusantara.

Tentu saja, itu adalah bentuk nyata dari pernyataan Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Gajah Mada.

Tepatnya pada tahun 1343, Majapahit telah berhasil mengalahkan raja Kerajaan Pejeng yang ada di Bali. Dilanjutkan dengan Dalem Bedahulu, lalu berhasil menguasai seluruh kepulauan Bali.

Tidak sampai di situ, pada tahun 1347, sang sepupu Adityawarman juga diutus untuk menaklukkan sisa Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu. Adityawarman sendiri memang masih keturunan Melayu.

Karena prestasinya itulah, Adityawarman diangkat menjadi raja bawahan atau uparaja Majapahit yang memerintah wilayah Sumatera.

Dilanjutkan Oleh sang Putra

Di Nagarakretagama disebutkan, bahwa akhir pemerintahan sang ratu Tribhuwana adalah pada saat meninggalnya Dewi Gayatri pada tahun 1350. Namun, nampaknya berita itu kurang tepat karena tidak sama dengan yang tertulis di Prasasti Singasari.

Dalam prasasti tersebut menyebutkan bahwa di tahun 1351, Tribhuwana masih memerintah sebagai ratu di Majapahit.

Terlepas dari kapan pun berakhirnya masa pemerintahan sang ratu, ia tetap tidak tinggal diam dan terus menjadi pengarah untuk mewujudkan cita-cita agung Majapahit.

Perjuangan tersebut lantas dilanjutkan oleh sang putra, Hayam Wuruk. Hayam Wuruk resmi diangkat menjadi raja keempat Majapahit, menggantikan ibunya.

Di masanya, perluasan kerajaan ini berkembang pesat bahkan hingga mencapai Wanin di ujung timur, dan Lamuri di ujung baratnya.

Akhir Hayat sang Ratu

Dari kesimpangsiuran kapan tepatnya Ratu Tribhuwana turun tahta, maka para sejarawan menyimpulkan bahwa habisnya pemerintahan sang ratu adalah pada tahun 1351. Tepatnya, setelah keluarnya Prasasti Singasari.

Setelah usai memerintah dan digantikan oleh putra pertamanya, Hayam Wuruk, Tribhuwana lantas kembali menjadi Bhre Kahuripan. Ia tergabung dalam Saptaprabhu, yakni seperti dewan pertimbangan agung yang anggotanya adalah keluarga kerajaan.

Sementara, tidak ada yang tahu pasti kapan meninggalnya sang ratu nan hebat ini. Dalam Pararaton hanya disebutkan, Tribhuwana meninggal dunia pada tahun 1371. Tepatnya, setelah upacara pengangkatan Gajah Enggon sebagai patih Majapahit yang baru.

Sedangkan suaminya, Kertawardhana Bhre Tumapel diketahui meninggal beberapa tahun kemudian setelah meninggalnya sang istri. Tepatnya, pada tahun 1386.

Dari kedua sosok pemerintah Majapahit tersebut, Tribhuwana didharmakan ke dalam Candi Pantarapura yang berada di desa Panggih. Sementara suaminya didharmakan di desa Japan dalam Candi Sarwa Jayapurwa.

Pelajaran dari sang Ratu

Setelah menilik kehidupan sejarah Ratu Tribhuwana, tentu banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari sosoknya.

Beberapa pelajaran tersebut, antara lain:

  • Wanita bukan makhluk lemah yang tidak bisa memimpin. Terbukti, di bawah kepemimpinan Ratu Tribhuwana, Majapahit berada di ambang kejayaan
  • Seorang pemimpin harus bisa mengambil keputusan dengan cepat dan cermat, dengan pemikiran yang cerdas namun tetap diperhitungkan
  • Menjadi seorang yang patuh pada perintah orangtua tidak akan pernah merugi. Seperti patuhnya sang ratu pada ibunya, yang tanpa membantah rela naik tahta dan memikul seluruh tanggung jawab besar
  • Menjadi seorang pemimpin harus berani mengorbankan diri, bahkan nyawanya sendiri. Ini tercermin dari kisah sang ratu yang terjun langsung menjadi panglima saat para panglimanya justru sedang berebut posisi

Jejak Petilasan sang Ratu

Jika Anda ingin menapak tilas sejarah kehidupan Ratu Tri Bhuana Tunggadewi, maka bertandanglah ke Mojokerto, Jawa Timur.

Seperti diketahui, Mojokerto memang menjadi saksi bisu dari kejayaan kerajaan Majapahit, tak terkecuali pada masa pemerintahan Tribhuwana.

Tepatnya di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Mojokerto, Jawa Timur, terdapat situs petilasan Ratu Tribhuwana. Letaknya ada di tengah kampung dan jauh dari keramaian, sehingga suasana petilasan sang ratu ini masih sangat asri dan damai.

Petilasan itu sendiri bukanlah makam dari sang ratu, melainkan hanya tempat sembahyang atau tempat bertapanya saja. Dikarenakan, Majapahit adalah kerajaan Hindu-Budha, yang mana jenazahnya dibakar sehingga tidak ada keberadaan makamnya.

Situs petilasan tersebut diperkirakan dibuat pada tahun 1372 Masehi setelah sang ratu meninggal dunia. Karena itulah, sebagian sejarawan percaya bahwa petilasan ini dibuat oleh putra sekaligus raja Majapahit saat itu, Hayam Wuruk.

Dinas Purbakala sering menyebut tempat petilasan itu dengan istilah Yoni, yang artinya kesuburan. Sementara, masyarakat di sekitar petilasan menyebutnya dengan istilah Punden Majapahit.

Untuk waktu penemuannya sendiri tidak bisa disebutkan secara pasti, karena memang petilasan sang ratu sudah dari dulu ada.

Petilasan tersebut juga sudah melalui beberapa tahapan renovasi, yang sekarang ini semakin memudahkan pengunjung yang ingin menilik lebih jauh kehidupan sang ratu.

Pembangunan lokasi pertama kali dilaksanakan pada tahun 1964, kemudian renovasi pertama dilakukan pada tahun 1980, disusul selanjutnya tahun 1995.

Di tahun 1995 itulah mulai dibangun akses jalan menuju petilasan, karena sebelumnya hanya ada jalan setapak saja. Pada tahun 2007 dan 2008 lalu, jalan menuju petilasan ini diperlebar lagi.

Terakhir kali direnovasi adalah tahun 2016, yang fokus pada perbaikan pagar yang sudah hampir roboh.

Eksavakasi Petilasan sang Ratu

Masih baru sekali, pada bulan Agustus 2019 kemarin, petilasan ratu Tribhuwana tersebut dilakukan eksavakasi oleh para arkeolog.

Eksavakasi ini dilakukan selama 12 hari penggalian. Dari situlah, para arkeolog menemukan struktur campuran antara batu andesit dan batu bata merah. Memang, selama ini Yoni atau petilasan sang ratu ini terbuat dari batu andesit.

Penggalian tahap pertama ini dimulai pada tanggal 19 Agustus 2019 lalu. Tujuannya adalah untuk mengungkap struktur purbakala yang terpendam di bawah petilasan itu.

Terungkap, selama 12 hari penggalian tersebut, mayoritas struktur ditemukan di sebelah utara serta barat petilasan.

Berikut beberapa struktur yang berhasil ditemukan:

  • Struktur pertama adalah pagar yang terbuat dari bata merah kuno yang diprediksi merupakan pagar luar dari petilasan
  • Struktur kedua adalah batur atau lantai yang panjangnya mencapai 13,6 meter. Ini menyerupai bangunan yang disusun dari batu andesit berukuran besar yang letaknya ada di antara pagar dan Yoni
  • Struktur ketiga adalah bentuk berundak menyerupai tangga yang ada di sebelah barat petilasan. Bagian atasnya terdiri dari bata kuno, dan bagian bawahnya tersusun dari 7 lapis batuan andesit

Perbedaan Jenis Batu

Dari penggalian ini juga ditemukan adanya perbedaan jenis batu andesit yang digunakan untuk membangun petilasan.

Batu andesit tersebut ada yang berwarna putih dan yang lainnya berwarna lebih gelap. Selain itu, diprediksi juga bahwa dulu pernah dilakukan pelebaran lantai petilasan tersebut meski belum diketahui pasti kapan waktunya.

Dari penggalian ini juga diketahui bahwa petilasan sang ratu memiliki luas sekitar 24×24 meter persegi.

Selain itu, ditemukan juga fragmen dari tanah liat dan batu andesit yakni berupa pecahan genteng serta batu yang berukir. Ini menunjukkan kesamaan periode dengan situs Grogol Trowulan dan Sumur Upas.

Eksavakasi tersebut memberi teori baru, bahwa petilasan sang ratu adalah tempat pemujaan tunggal tanpa candi-candi pendukung lainnya.

Yang artinya, pemujaan tunggal tersebut hanya mengarah pada satu objek yang dipuja, yakni pemujaan agama Hindu di zaman berdaulatnya sang ratu.

Eksavakasi tahap kedua kemungkinan akan dilakukan tahun depan, untuk menggali lebih jauh sejarah peninggalan Majapahit ini.

Nah, itu dia sejarah panjang mengenai sosok perempuan yang berdiri di balik kejayaan Majapahit. Bagaimana, tidak menyangka bukan, jika kerajaan ini bisa sejaya itu dalam genggaman seorang wanita?

Tentu, sebagai wanita Indonesia, kita semua harus meneladani keberanian dan kecerdasan dari Ratu Tri Bhuana Tunggadewi ini, ya. Demikian, semoga ulasan ini bermanfaat!

Photo ilustrasi: socialboor.com

Related posts

Terungkap! Ini Rahasia Kecantikan Wanita Brasil

Jeng Susan

Wanita dan Batik Pilihan yang Sesuai Postur Tubuh

Jeng Susan

Warisan Leluhur, 5 Tradisi Wanita Suku Jawa yang Legendaris

Jeng Susan

Leave a Comment